Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2015

Cinta Itu Bukan Dendam


 

                Aku patah hati lagi. Sebenarnya ini tak masalah buatku, karena toh Aku tak terlalu mengenal dia dengan baik, Aku juga masih dalam proses mencintai dan menerimanya dalam hatiku. Namun tetap aja sekecil apapun luka itu, hatiku tetap tercubit dan tak dipungkiri Dia membuatku menangis. Aku menangis karena merasakan kekesalan dan kekecewaan kepada dia tapi aku tak  membencinya.
                Dia datang dalam hidupku  tanpa diundang. Dia datang dengan cinta yang ditawarkannya. Saat itu Aku tak tau siapa dia? Kapan kami saling bertemu? Kapan dia mengenal dan tahu tentang diriku? Kapan dan kenapa dia bisa suka Aku? Aku sama sekali tak tahu tentang itu, tapi Dia datang dengan cinta yang terlihat tulus. Sayangnya dia datang disaat yang tidak tepat, saat itu hatiku terlanjur mencintai orang lain. Mungkin saat itu penolakanku akan cintanya terlalu kasar sehingga meninggalkan luka dihatinya, Aku sama sekali tak bermaksud membuatnya tersakiti. Tapi rupanya sakit yang dirasakannya begitu dikenang dan dirasakannya sampai saat ini.
                Dulu sekalipun Aku cuek, Aku abaikan, Dia seolah tak kenal lelah tetap gigih dan berusaha untuk mendapatkan hatiku. Kami belum pernah bertemu secara langsung hanya lewat sms, telpon dan dunia maya, tapi kami saling tahu satu sama lain. Pada akhirnya Aku juga tau dia yang mana? Wajahnya seperti apa?. Dua tahun berlalu sikap Aku yang dulu sedikit acuhpun kini mulai mau merespon Dia dan mulai merasa enjoy mengobrol dengannya tak hanya didunia maya, kadang dia pun sering menelpon dan videocall. Dalam Dua Tahun pun dia tetap menggombal dan merayuku  seolah-olah hatinya masih tetap sama sekalipun aku cuek dan dia sudah berapa kali ganti pacar.
                Semua terjadi karena perhatian-perhatian kecil yang selalu dia tunjukan, membuatku merasa ada yang begitu care dan sayang padaku, orang yang selama ini Aku  abaikan justru Dia yang selalu ada, sementara yang selama ini Aku harapkan pergi bagaikan ditelan Bumi. Satu-satunya kebodohanku  adalah Aku  percaya begitu saja sederet kata-kata manis dan rayuan gombalnya. Hatiku yang tengah rapuh dan terombang ambing karena cinta seseorang pun mulai luluh. Hatiku  yang begitu merindukan keseriusan laki-laki pun runtuh seketika saat Dia melontarkan serangan-serangan cintanya. Misalnya, Dia tiba-tiba bilang “Tunggu aku sampai aku siap dan datang melamarmu” atau membicarakan semua keseriusan-keseriusan seorang laki-laki.
                Segala perhatian dan semua rayuan gombal itu seharusnya sejak awal sudah aku curigai hanya untuk mengambil hatiku dan ternyata hatiku pun luluh. Aku mulai merindukan setiap sms dan segala bentuk perhatiannya. Rindu setiap kata-kata sayangnya. Oh..apakah Aku  jatuh cinta lagi Tuhan?. Ketakutan akan tersakiti kesekian kalinya, Aku  pun berusaha menghindarinya. Beberapa kali menahan diri untuk membalas setiap chatnya, sebisa mungkin tak menjawab teleponnya. Berusaha untuk menolak setiap perhatian dan rayuan gombalnya. Tapi tiba-tiba dia datang dengan keputus asaannya tentangku.
                “Kamu sudah punya pacar? Aku patah hati, ya sudah semoga kamu bahagia” tulisnya dalam layar chat
                Entah perasaan apa yang datang ke hatiku tiba-tiba Aku merasakan Dia begitu tulus dan sungguh-sungguh. Akhirnya hatiku pun luluh juga, benih-benih cinta itu mulai tumbuh diatas kerapuhan hati ini. Dan kamipun menjalin kedekatan layaknya orang pacaran tapi tanpa ada kata jadian. Sejak hari itu tak ada perubahan dalam dirinya, dia tetap memberiku perhatian layaknya seorang pacar, Dia masih sering menelpon, dan yang membuat Aku bahagia kata-kata cinta penuh kesungguhan yang keluar dari bibirnya. Sebulan kedekatan yang kami jalin Dia mulai sedikit berubah, waktunya tak sebanyak dulu, dia mulai sering menghilang kadang dalam seharipun bisa tak memberiku kabar. Cemburunya mulai berlebihan padahal itu temannya sendiri.
                “Ahh.. mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya” aku mencoba berpikir positif.
                Puncaknya ketika Aku  buka twitter miliknya, kaget bukan main. Ternyata ada sesosok wanita yang selalu dia panggil sayang, semua kata-kata cinta yang dia racuni ke dalam hati dan pikiranku ternyata dia juga menghujani wanita itu dengan kata cinta dan rayuan yang sama persis dia lakukan terhadapku. Oh..Tuhan, apa artinya semua ini? Mungkinkah dia sudah memiliki wanita dihatinya? Lantas kenapa dia selalu berusaha mendekatiku? Mengapa dia selalu menghujaniku dengan berbagai kata-kata cinta? Apa salahku? Kenapa dia melakukan ini?.
                Akupun berusaha mencari kebenaran dengan menanyakannya langsung, namun dia meresponku penuh emosi.
                “Sudahlah, aku mau fokus dengan masa depanku sendiri. Kalau kamu mau aku jujur, kamu pikir dulu saat kamu tak menganggapku, aku tak sakit? Aku terima begitu saja?” tulisnya dalam layar chat.
                Tiba-tiba aku merasakan sakit yang amat luar biasa menjalar keseluruh ruang dihatiku. Hatiku tercubit, dan sakit ini membuat butir-butir air mata terjatuh membasahi pipiku. Berkali-kali aku mengucap Istigfar dalam hatiku, berharap sakit ini tak akan berlanjut.  Aku menangis semalaman. Bukan karena cinta yang diabaikan, lebih kepada perasaan kecewa dan kesal karena dibohongi dan dipecundangi begitu saja. Aku mencoba memahami semua yang terjadi, memahami sikapnya yang begitu jahat. Padahal selama 2 tahun ini aku beranggapan Dia laki-laki yang baik dan tak pernah menyimpan dendam ataupun sakit hati atas semua sikap acuhku. Tapi dia kini bagaikan api dalam sekam, dibalik sikap baik dan manisnya diam-diam menyimpan rasa sakit terhadapku. Tapi semua sikap kasar dan kebohongannya tak membuatku ingin membencinya, karena hatiku terlalu lelah untuk membencinya.
                Semenjak hari itu, aku semakin mendekatkan diriku kepada Allah. Aku berharap Allah menguatkan hatiku untuk menerima semua benci yang Dia tujukan kepadaku, semoga Allah tetap menguatkan hatiku untuk tak membalas membencinya. Dengan ikhlas aku terima semua sakit dan perih ini, mungkin inilah buah dari sikapku dulu. Sakit dan perih atas perlakuannya tak akan membuatku terpuruk untuk kesekian kalinya, karena bagiku sakit ini tak seberapa jika dibandingkan dengan kegagalan-kegagalan ku terdahulu.
                “Ya Allah, ampuni aku yang telah membiarkan cinta selain cintamu merasuki hatiku. Cinta yang didasari nafsu sesaat, cinta yang tak dilandasi cinta kepadamu. Ampuni hamba yang telah terlena mencintai selain kepadamu. Allah, hanya engkau yang maha membolak balikan hati manusia. Perbaikilah hatiku agar aku dapat dengan mudah melupakan segala sakit, perbaikilah hatiku agar tak membenci sesamaku hanya karena sakit yang kurasakan. Tetapkanlah hatiku hanya untuk mencintaimu seumur hidupku. Bersihkanlah hatiku dari segala macam jenis cinta duniawi, biarkan hanya cintamu yang mengisi setiap relung dihatiku. Aku tak akan lagi berharap jatuh cinta jika hanya akan mencermarkan hati, membuatku melupakan cintamu hanya karena cinta sesaat dari umatmu yang belum tentu baik untukku. Aku pasrah atas apa yang menjadi takdirmu”.
                Setelah menangis dan mengadu semalaman kepada Allah, hatiku merasakan tenang. Tak ada lagi air mata dan kekecewaan dihatiku. Untuk menjaga hatiku agar tak tercemar rasa benci dan sakit hati lagi, aku memutuskan semua aksesku yang dapat menghubungkan aku dengan Dia. Kini aku bahagia, karena  aku memutuskan untuk istiqomah pada cinta yang tak akan pernah membuatku menangis, cinta yang tak akan membuatku patah hati dan kecewa lagi, cinta yang membuat hatiku semakin tenang dan damai dalam bahagia. Cinta Illahi Rabbi. Semoga kelak cintamu akan mengantarkanku bertemu dengan jodoh dunia akhiratku, jodoh yang selalu membimbingku dakam jalanmu, jodoh yang selalu mengajariku untuk lebih mengenal cintamu, jodoh yang mencintaiku karenamu. Aamiin…

Rabu, 15 April 2015

Mencintaimu Dalam Diam



                Namaku  Adinda Maura, sekarang usiaku 24 tahun. Aku ingin menceritakan tentang kisah cintaku yang pertepuk sebelah tangan. Walau hanya bertepuk sebelah tangan tapi entah kenapa setiap kali bercerita tentang ini aku selalu tersenyum manis layaknya remaja yang tengah kasmaran, padahal umurku sudah bukan lagi remaja. Tapi sekarang aku lebih pantas disebut wanita. Ada perasaan yang tak bisa ku tutupi tentang cerita ini yaitu aku bahagia pernah mengaguminya untuk sekian lama, walau hanya mampu mencintainya dalam diam.
                Aku mulai mengaguminya sejak duduk dibangku kelas satu SMP. Saat itu aku sudah beberapa kali memiliki cinta monyet, setiap kali ada cowok yang naksir aku atau ada kakak kelas yang naksir waktu di SD (Sekolah Dasar) aku pasti langsung mengiyakan. Mungkin namanya juga anak kecil yang sedang beranjak ABG hehe...!!. Sampai pada suatu hari dikantin saat aku dan ke dua sahabatku tengah asik menyantap makan siang, aku melihat ada seorang anak laki-laki yang sedang membeli minuman, tiba-tiba untuk beberapa saat aku terpaku olehnya. Padahal saat itu sedang ramai dikantin, tapi entah kenapa sosok itu terlihat begitu berbeda dari kerumunan orang banyak. Wajahnya yang imut bulat, dengan pipi yang sedikit chubi, kulitnya yang putih, rambut sedikit ikal, dan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Tuhan ini kah yang mereka bilang cinta pada pandangan pertama?.
                “ Dinda, kamu lagi apa seh ko bengong?” tanya Tania sahabat dekatku
                “Eh, Tan! Kamu kenal cowok itu gak?” tanyaku sambil menunjuk kearah cowok kece tadi
                “Yee, ini anak ditanya malah tanya balik” kata Lulu sahabatku yang lainnya sambil mencubit lenganku.
                “Lulu... sakit” kataku tak peduli
                “Yang mana sih Din?” tanya Tania mencari-cari sosok yang aku tunjuk
                “Itu lho yang lagi duduk bareng si Aldo anak kelas 7B” jawabku masih memperhatikan sosok kece itu.
                “Yang duduk sama Aldo banyak kali Din, ada 4 orang tuh. Kamu nunjuk yang mana?” kata Tania mulai kesal
                “Yang imut putih rambutnya ikal” jawabku sumringah
                “Ohh, itu seh namanya Ryan. Dia sekelas ama si Aldo” kata Lulu tiba-tiba menjawab
                “Kamu kenal Lu? Dia anak baru ya?” tanyaku penuh antusias
                “Tadi aja aku dicuekin sekarang malah so manis” Lulu sedikit kesal
                “Sori deh... abis tadi lagi terpesona sama cowok kece yang disana. Kamu kenal dia Lu?” kataku merayu Lulu
                “Kenal, dia satu sekolah sama Aku waktu SD” jawab Lulu
                “Dia baru pindah yaa? Ko aku baru liat seh” kataku penasaran
                “Dia bukan anak pindahan Din, emang kamunya aja kurang gaul” sambar Tania sambil mengacak-acak rambutku
                “Udah yuk ahh kekelas, bentar lagi masuk” Ajak Tania yang diikuti Lulu
                “Ehh, tunggu masa aku ditinggalin seh” aku berlari sambil sesekali menengok kekembali kearah Ryan.
                Pembicaraan tentang Ryan hari itupun berlalu begitu saja. Tak ada hal yang istimewa yang kudapat tentangnya dihari pertama melihatnya. Hanya saja sejak hari itu aku menjadi semakin penasaran tentangnya, terkadang disekolahpun aku selalu mencari-cari sosok dia. Entahlah ada perasaan yang lain dihatiku setiap kali melihatnya dari kejauhan, apalagi jika tak sengaja melihatnya tersenyum dan tertawa lepas. Dia semakin menggemaskan.
                “Lu, kamu dulu kan satu sekolah SD sama Ryan. Dia orangnya kayak gimana sih?”tanyaku penasaran.
                “Kamu beneran naksir Dia, Din?” tanya Lulu melotot kaget.
                “Yee, nanya doang emang gak boleh ya?” kataku mengelak
                “Kayaknya sih Dinda emang suka sama dia deh Lu, kamu liat aja tingkahnya tiap hari kayak nyari orang ilang” Ledek Tania yang disambut tawa lepas Lulu.
                “Seneng banget ya ngeledekin temennya tuh” kataku sedikit kesal.
                “Sori deh, abis kamu tuh kalau suka bilang aja suka gak usah malu” kata Tania
                “Iya, Din. Tenang nanti aku bantuin buat deket sama dia” sambung Lulu
                “Ngga ahh, aku malu. Aku Cuma mau tau dan kenal dia lebih dari kamu aja Lu” kataku
                “Kenapa?”tanya Lulu dan Tania bersamaan
                “Aku sadar diri dong, mana mau cowok seimut dia sama aku” kataku pesimis
                “Kamu cantik Din, baik lagi” kata Tania mencoba memberiku semangat
                “Cantik dengan body yang aduhai gedenya” kataku lagi
                “Kenapa harus masalahin body seh Din?” tanya lulu kesal
                “Tau nih anak, Pede aja lagi. Gendut juga cantik. Lagian kamu tuh gak gendut-gendut amat ko” kata Tania si pemberi semangat.
                “Aku setuju” kata Lulu mengiyakan
                “ahh, pokoknya aku gak mau terlalu banyak berharap. Cukup kenal dia dari cerita kamu dan melihat dia dari jauh” kataku tersenyum.
                Dari cerita Lulu, aku tahu sedikit tentang pribadinya Ryan. Dia anak yang baik, asik diajak bercanda, memiliki banyak teman, cukup pintar saat dia masih SD, dan ternyata dia orang yang cukup jail diantara teman-temannya. Aku tak menyangka cowok seimut dia bisa juga jail.
                Dua tahun sudah aku mengaguminya dalam diam. Eits.. jangan salah, walau hanya mengaguminya dalam diam tapi sesekali aku sering menitipkan salam buat Ryan lewat Lulu tentunya tanpa memberitahukan siapa nama sipengirim salam itu. Dalam dua tahun juga Lulu dan Tania selalu berusaha untuk mendekatkan aku dengan Ryan tapi aku selalu menolak. Setidaknya dalam dua tahun ini ada kemajuan dari yang hanya mencuri pandang dari jauh, aku sudah berani menitipkan salam walau tanpa identitas, sesekali aku, Lulu dan Tania berkumpul dan ngobrol dengan Ryan dan teman-temannya. Buatku itu sudah lebih dari cukup dan aku bahagia.
                Sempat saat perpisahan SMP Lulu dan Tania menyuruhku untuk mengirim surat pada Ryan dan mengatakan perasaanku padanya, sebelum akhirnya kami benar-benar jauh. Tapi lagi-lagi aku menolak. Rasanya tak pantas perempuan yang mengatakan cinta terlebih dahulu walau itu hanya sebatas menyampaikan bukan pernyataan yang mengharapkan jawaban. Lulus SMP aku, Lulu dan Tania melanjutkan ke sekolah SMA yang sama, Ridho yang menjadi akrab dengan kami bertiga melanjutkan kesekolah yang berbeda tapi tak jauh dari sekolah kami. Sementara Ryan, dia melanjutkan ke salah satu sekolah di Bandung karena orang tuanya dipindah tugaskan.
                Lima tahun berlalu sejak terakhir kali aku melihat Ryan. Jangan tanya apa selama itu aku tak pernah tahu kabarnya? Pastinya tahu dong. Era modern semua semakin canggih, apalagi sekarang ada facebook dan lainya. Selama Lima tahun terakhir aku hanya mengamatinya dari dunia maya, setiap status dan foto-fotonya tak pernah luput dari perhatianku. Aku sangat ingin bertemu atau hanya pertegur sapa dengannya tapi Ryan selalu mangkir dari acara reuni yang selalu diadakan anak-anak. Sekalinya Ryan hadir, malah aku yang mangkir. Ahh.. sepertinya Tuhan belum mengizikan aku melepas rindu yang teramat dalam padanya.
                Suatu hari difacebooknya aku melihat dia mengupload foto seorang wanita cantik. Awalnya aku mencoba tenang mungkin itu hanya salah satu saudaranya dan akupun membiarkanya berlalu begitu saja tanpa melihat isi facebooknya lebih jauh. Sampai suatu hari dia merubah statusnya menjadi “In relationship, rasa penasaranpun tak terbendung lagi. Aku mulai membuka akun facebooknya, dan hatiku hancur seketika saat melihat foto dia dengan wanita cantik yang aku lihat tempo hari. Tak terasa air mataku menetes begitu saja.
Tuhan semakin jauh harapanku untuk menggapainya. Apakah ini jalan yang kau pilihkan? Apakah aku tak cukup pantas untuknya? Atau dia yang tak baik untukku?. Jika memang aku dan dia tak baik untuk satu sama lain, mengapa hatiku masih selalu bergetar setiap kali melihat atau mendengar tentangnya, Tuhan?.
Kini tujuh tahun sudah aku dan dia tak saling bertemu atau bertegus sapa sama sekali, baik dalam kehidupan nyata ataupun dalam dunia maya. Rasanya diri ini begitu sulit untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabarnya, apa lagi kini hatinya telah ada sosok yang dicintainya. Dari sejak awal melihatnya dulu hingga kini hatiku masih tetap sama “Mencintai dan mengagumi dalam diam”

Sabtu, 11 April 2015

Aku Tak Mau Punya Ayah Tiri





                Aku terisak saat memandang foto Ayah, lelaki yang begitu amat ku sayangi dalam hidup. Sosok lelaki tampan yang sederhana dan Imam yang bertanggung jawab kepada keluarganya. Aku sering memandangi dan memeluk foto Ayah setiap kali aku merindukan Ayah yang sudah satu tahun menghadap Ilahi.
                Aku masih tak percaya Ayah yang begitu ku cintai, tak lagi ada ditengah-tengah keluarga. Separuh hidupku seperti runtuh, kehilangan sumber semangat dan tempat berbagi. Aku memang yang paling dekat dengan Ayah, keluarga dan teman-teman tak jarang yang bilang aku ini anak Ayah. Karena hampir setiap saat Ayah selalu memantau setiap kegiatan dan kabar aku melalui telpon, tak heran jika mereka semua berpikir seperti itu.
Ayah segalanya buat aku, bukan berarti aku tak menyayangi Ibu yang telah mengandungku selama 9 bulan dan melahirkan aku berjuang antara hidup dan mati. Aku sama-sama menyayangi mereka, cintaku juga sama rata. Tanpa ibu aku tak akan mampu berdiri sendiri. Hanya mungkin karena terlalu sering berkomunikasi dan dicerewetin Ayah jadinya aku lebih dekat dengan Ayah.
Keluargaku hidup dengan harmonis saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain, keeratan itupun semakin terasa sejak kepergian Ayah, kami jadi sering berkumpul bersama. Aku anak ke tiga dari empat bersaudara. Kedua kakakku sudah menikah dan tinggal terpisah dari kami. Kakak pertamaku laki-laki, namanya Bang Guntur. Dan kakak keduaku perempuan, namanya Kak Salma. Adikku yang bungsu laki-laki, namanya Rama.
Hingga pada suatu hari badai itu datang, Ibu terlihat sedang dekat dengan seorang laki-laki yang katanya dulu adalah temannya sewaktu masih sekolah. Aku memang pernah bertemu dengannya beberapakali saat Ayah masih ada, dia pernah berkunjung kerumah jika sedang ada di Bandung. Ibu pernah cerita, kalau temannya itu kerja dan menetap diJakart. Namanya Pak Candra. Dia sudah menduda cukup lama, dulu saat ibu cerita aku masih duduk dibangku SMA. Katanya dia cerai dengan Istrinya yang orang Minang dan kedua anak perempuannya ikut dengan Ibu mereka tinggal di Minang. Terakhir saat Ayah sakit dia sempat datang menjenguk dan aku dengar mantan istrinya sudah meninggal dunia.
Sejujurnya aku sangat kecewa mendengar kedekatan Ibu dengan lelaki itu, walaupun setiap kali keluarga menanyakan ibu selalu menjawab hanya sebatas teman. Tapi aku merasakan ada niat tertentu dibalik kedekatan mereka. Ibu yang dulu tak begitu dekat dengan lelaki teman-teman semasa sekolahnya dulu, sekarang menjadi jauh berbeda. Sering aku mendengar mereka sekedar bertelpon ria, mereka terlihat asik bercanda lewat telpon, terkadang akupun membaca beberapa pesan singkatnya yang menurutku tak biasa untuk sebuah pertemanan.
Ya Allah, hamba tak ingin dan tak akan pernah Ridha mempunyai Ayah tiri. Membayangkannya saja tak pernah apalagi kalau sampai mengalaminya. Aku tak mau!
Semakin hari aku semakin kecewa dengan sikap ibu, tapi semua kutahan. Dan akupun menjadi lemah, tak jarang aku menangis setiap kali melihat ibu menerima telpon dari lelaki itu. Ingin rasanya berteriak, aku marah, kecewa. Ya, Allah kenapa Ibu ku begitu berubah. Sering aku menyibukan diri dikampus sampai sore hanya untuk menghindari melihat ibu tengah asik bercanda ditelpon dengan lelaki itu.
Selama ini yang aku tahu mereka hanya sebatas bertelpon ria tak pernah jauh sampai pergi berdua. Pernah sekali dia berkunjung kerumah, dan aku memasang wajah jutek dan ibu tahu dari sikapku kalau aku tak menyukai temannya itu. Sejak saat itu dia tak pernah berani datang kerumah. Tiga bulan sudah kupendam semua kekecewaan dan kesedihan ini sendiri. Tak pernah sekalipun kuceritakan pada kedua kakakku apalagi kepada si bungsu Rama, masih duduk dibangku SMA. Kedua kakakku terlihat tak begitu perduli dengan gosip dan kedekatan ibu dengan temannya itu. Dan itu semua membuat kekecewaanku semakin besar. Sementara si bungsu terlihat tak suka hanya saja tak berani mengutarakan.
Akhirnya kekecewaan aku sampai pada batasnya. Saat itu Pak Candra berkunjung kerumah, dia terlihat kaget melihat aku yang membukakan pintu. Mungkin dia pikir aku tak ada dirumah, saat dia datang Ibu sedang ada urusan disekolah si bungsu.
“Ibu ada Neng?” tanyanya dengan senyum.
Aku pikir mungkin ini saatnya aku bicara jujur pada laki-laki yang paling aku benci selama tiga bulan terakhir ini. Lelaki yang membuat aku muak dan ingin memakinya. Tapi sebisa mungkin aku menahan diri untuk sopan.
“Tidak ada, sedang kesekolah si bungsu” jawabku sedikit ketus.
“ohh, begitu. Yasudah nanti saja Bapak kesini lagi” katanya lagi masih dengan senyum diwajahnya.
“Tunggu Pak, kalau boleh saya mau bicara” kataku masih menahan emosi
“Ada apa?” tanyanya yang masih berdiri dipintu dan tak kupersilahkan masuk.
“Maaf, saya tahu Bapak dan Ibu berteman dari sejak dibangku SD. Saya juga sedikitnya tahu tentang Bapak. Tapi jujur saja saya tidak suka dengan kedekatan Bapak dengan Ibu saya dan saya juga tidak suka dengan kunjungan Bapak ini” kata saya menegaskan.
“Memang apa yang salah dengan kedekatan kami berdua Neng?” tanyanya dengan senyum sedikit meledek yang membuat saya semakin emosi.
“Yang salah karena status kalian janda dan duda, itu akan menimbulkan fitnah” jawabku dengan nada sedikit emosi.
“Tapi kami tak pernah jalan berdua, berjinah  atau apapun itu yang dapat menimbulkan fitnah dan dosa”. Katanya menyanggah
Rasanya emosiku sudah tak bisa kutahan lagi “Dengan menelpon setiap hari, tertawa dan bercanda layaknya remaja ABG ditelpon bapak pikir itu bukan jinah? Apalagi kalian bukan muhrimnya” kataku penuh emosi.
“Tapi bukan saya yang menelpon Ibu Neng duluan, Ibu yang suka menelpon dulua. Kasihan dong kalau tidak saya respon” katanya santai dengan senyum meledek
“Ya, Allah maafkan hambamu ini, hamba benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan emosi dan bersikap sama lelaki didepan hamba”. Keluhku dalam hati
“Terserah bapak mau bilang apa, pokoknya saya tidak suka dengan kedekatan kalian. Dan harap jauhi Ibu saya, tak usah lagi berhubungan sekalipun Ibu saya yang menghubungi duluan” kataku mengakhiri pembicaraan ini dengan benar-benar penuh emosi dan membanting Pintu.
Aku masuk kamar dan menangis menatap foto Ayah. Ahhh...rasanya hari ini begitu kangen Ayah. “Seandainya Ayah masih ada, mungkin air mata ini tak akan pernah ada. Seandainya Ayah ada hati ini tak akan sesakit ini, Yah” kataku dalam hati.
Sore itu saat aku tengah asik menonton TV denga Adikku tiba-tiba ibu membuka obrolan. “Neng, tadi Pak Candra kesini kan?” tanya Ibu
“Iya” jawabku singkat.
“Kenapa kamu ngomong gitu ke Pak Candra? Gak sopan kamu sama yang lebih tua” kata ibu
“Ohh, jadi dia ngadu sama Ibu. Nayla udah berusaha sopan dia duluan aja yang mulai” kataku sedikit emosi
“Nay, jaga omongan kamu Pak Candra itu lebih tua dari kamu. Kalau ngomong yang sopan” kata Ibu dengan nada sedikit tinggi.
“Jadi ibu lebih ngebela dia? Ibu tau gak, dia bilang ibu yang kecentilan nelpon dia tiap hari. Nay sakit denger itu Bu” kataku mulai terisak
“Biarin Pak Candra mau bilang ibu yang duluan atau apapun, kenyataannya ibu gak gitu. Kamu harus tetep sopan sama yang lebih tua. Lagian antara Ibu dan Pak Candra gak ada hubungan apapun Nay”
“Terus aja ibu belain dia, Ibu Cuma mikirin kesenangan Ibu. Ibu gak mikirin perasaan Nay, perasaan Rama setiap hari ngliat ibu ketawa ketiwi sama orang itu di telpon, hati Nay sakit Bu”. Tangisku semakin kencang.
“kenapa harus sakit hati? Ibu kan udah bilang sama kalian semua dan keluarga yang lain kalau Ibu gak mau dan gak akan nikah lagi. Jadi kamu gak usah berlebihan” Ibu juga terlihat jadi emosi
“Kalau Ibu emang gak mau nikah lagi berhenti berhubungan sama dia, itu Cuma nyakitin hati anak-anak ibu” jawabku masih terisak
“Anak-anak Ibu yang mana? Cuma kamu aja yang sikapnya berlebihan, kedua kakak kamu tau tapi mereka biasa saja. Rama juga biasa saja. Cuma kamu aja, Nay”. Ibu semakin emosi
Allah, ada apa dengan sikap ibu. Aku benar-benar kecewa. “Rama masih kecil Bu, kalau coba ibu pahami mungkin dia jauh lebih sakit dari Nay. Ibu egois benar-benar egois” akupun berlari kekamar, aku lupa akan Rama. Rama ada disana menyaksikan pertengkaranku dengan Ibu.
“Maafkan Kakak. Ram” gumamku dikamar
“Kamu dari dulu memang anak Ibu yang paling susah dibilangin, keras kepala” suara Ibu masih terdengar dari luar dan tampaknya Ibupun semakin emosi.
Aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya sambil mengingat Ayah. “Ayah... Ayahhh” Isaku dalam tangis.
“Kamu sudah dewasa Nay, harusnya kamu memberi contoh buat Rama Adikmu, bukan malah bersikap tak sopan kepada yang lebih tua” Ibu masih saja menggerutu.
Entah kapan Ibu berhenti menggerutu, tiba-tiba saja aku sudah tak mendengar lagi suaranya. Aku tertidur karena terlalu lelah dengan semua emosi dan tangisku malam ini. Esoknya saat aku bangun rumah sudah sepi. Rama sudah pasti pergi sekolah, Ibu mungkin kepasar pikirku. Aku bergegas mandi dan pergi kekampus. Aku tak mau bertatap wajah dengan Ibu, itu hanya akan merusak moodku saja.
Sorenya saat aku tiba dirumah, hanya Rama yang terlihat tengah asik menonton TV dan Ibu tak terlihat. Didapurpun Ibu tak ada. Kamarnya pun sepi, aku pikir Ibu sedang istrirahat. Sampai malam tiba Ibu masih tak terlihat. Aku pun khawatir dan aku beranikan diri membuka pintu kamarnya tapi aku tetap tak bisa menemukan Ibu.
“Ibu kemana Dek?” tanyaku pada Rama.
“Katanya mau nginep dirumah Kak Salma” jawab Rama yang terlihat sibuk dengan PR dan menontn TV
“Ko tumben seh nginep? Emang Kak Salma kenapa?” tanyaku
“Gak tau, gara-gara kemarin bertengkar sama Kakak Mungkin” jawab Rama
“Ohhh...” kataku lirih. “Kamu tuh kebiasaan De kalau belajar sambil nontn TV. kakak mau tidur duluan cape, kamu tidurnya jangan malem-malem terus TV nya jangan lupa dimatiin yaa” kataku lagi.
“Siippp” jawab Rama singkat
“Jangan sip-sip aja, nanti malah ketiduran depan TV lagi kamu” kataku mengacak-acak rambut Adik kesayanganku
“Ngga, tenang aja. Kak besok bangun pagi siapin sarapan buat Rama yaa?” kata Rama sedkit teriak
“Oke, tenang” kataku mengancungkan jempol sambil berlalu.
“Awas jangan kesiangan lho” katanya sedikit khawatir.
Aku memang paling susah bangun diantara saudara-saudaraku yang lain. Semasa sekolah dulupun aku sering kesiangan. Dulu sewaktu masih ada Ayah, Ayah lah yang selalu membangunkan aku dengan berbagai cara. Ahh.. Ayah, akhir-akhir ini aku kangen sekali sama Ayah.
Tiga hari sudah Ibu menginap dirumah Kak Salma. Mungkin benar kata Rama, Ibu pergi dari rumah karena pertengkaran kami beberapa hari yang lalu. Gak biasanya ibu menginap lama dirumah kak Salma, biasanya sehari aja ibu udah langsung inget Rama gak ada yang ngurus katanya, kalau ditinggal berdua sama aku. Ibu juga gak pernah menelpon hanya sekedar bertanya tentang Rama.
Hari ini aku pulang lebih awal karena kasihan Rama kalau aku pulang sore. Saat sampai rumah aku lihat Ibu sudah pulang, tapi Ibu pulang hanya sebentar untuk mengantarkan makanan buat Rama dan Ibu pergi lagi ke rumah Kak Salma diantar ojeg. Rumah Kak Salma memang tak begitu jauh dari rumah kami, mungkin hanya memerlukan 1,5 jam perjalanan.
Sejujurnya aku semakin kecewa kepada Ibu, kenapa sikapnya harus seperti ini? Kalau memang Ibu marah kepadaku tak masalah buatku tapi jangan pergi meninggalkan rumah sampai tak ingat si Bungsu. Mungkin aku tak masalah Ibu tinggal berhari-haripun, tapi Rama? Dia masih kecil, masih butuh Ibu. Sejak kejadian malam itu hubungan aku dan Ibu semakin buruk dan kamipun tak saling bicara satu sama lain. Kedua Kakakku tak pernah bertanya atau mengatakan apapun tentang situasi ini. Entahlah, mungkin mereka terlalu sibuk atau mereka tak perduli lagi.
Kekecewaan akupun semakin hari semakin dalam terhadap keluarga. Ibu hanya karena laki-laki yang belum tentu lebih baik dari Ayah tega mengabaikan aku dan Rama dengan berlama-lama dirumah Kakakku.  Bagaimanapun aku dan Rama masih tanggung jawab Ibu tapi Ibu lebih memilih ketenangan hatinya dari pada kami yang masih menjadi tanggung jawabnya. Sikap kedua kakakku yang membiarkan Ibu berlama-lama meninggalkan kami itupun membuat aku amat kecewa. Aku tahu kak Salma dari dulu memang yang paling dekat dengan Ibu dan paling dimanja Ibu sekalipun dia sudah menikah, tapi harusnya kak Salma bisa menasehati Ibu. Bukankah seorang anakpun bisa menasehati Ibunya jika memang yang dilakukan Ibunya Itu salah?.
Aku hanya bisa berdoa setiap saat kepada Allah agar kelak keluargaku kembali utuh seperti dulu, kehangatan dan canda tawa itu kembali ada antara kami semua. Dan aku selalu berdoa semoga Ibu dibukakan mata hatinya bahwa sosok teman yang dia bela tak membawa kebaikan untuk keutuhan dan kenyamanan keluarga kami. Lindungi Ibu hamba dimanapun dia berada Ya Allah.
Nayla sayang Ibu. Semua sikap keras Nay, bukan karena Nay egois Bu tapi karena Nay sayang dan ingin yang terbaik untuk Ibu dan keluarga kita. Apapun alasannya kehadiran lelaki itu tak akan pernah tepat. Semoga Ibu dan keluarga memahami hati Nay. Sampaikan pun Nay Sayang Ibu.

Template by:

Free Blog Templates