Rabu, 13 Mei 2015

Cinta Itu Bukan Dendam


 

                Aku patah hati lagi. Sebenarnya ini tak masalah buatku, karena toh Aku tak terlalu mengenal dia dengan baik, Aku juga masih dalam proses mencintai dan menerimanya dalam hatiku. Namun tetap aja sekecil apapun luka itu, hatiku tetap tercubit dan tak dipungkiri Dia membuatku menangis. Aku menangis karena merasakan kekesalan dan kekecewaan kepada dia tapi aku tak  membencinya.
                Dia datang dalam hidupku  tanpa diundang. Dia datang dengan cinta yang ditawarkannya. Saat itu Aku tak tau siapa dia? Kapan kami saling bertemu? Kapan dia mengenal dan tahu tentang diriku? Kapan dan kenapa dia bisa suka Aku? Aku sama sekali tak tahu tentang itu, tapi Dia datang dengan cinta yang terlihat tulus. Sayangnya dia datang disaat yang tidak tepat, saat itu hatiku terlanjur mencintai orang lain. Mungkin saat itu penolakanku akan cintanya terlalu kasar sehingga meninggalkan luka dihatinya, Aku sama sekali tak bermaksud membuatnya tersakiti. Tapi rupanya sakit yang dirasakannya begitu dikenang dan dirasakannya sampai saat ini.
                Dulu sekalipun Aku cuek, Aku abaikan, Dia seolah tak kenal lelah tetap gigih dan berusaha untuk mendapatkan hatiku. Kami belum pernah bertemu secara langsung hanya lewat sms, telpon dan dunia maya, tapi kami saling tahu satu sama lain. Pada akhirnya Aku juga tau dia yang mana? Wajahnya seperti apa?. Dua tahun berlalu sikap Aku yang dulu sedikit acuhpun kini mulai mau merespon Dia dan mulai merasa enjoy mengobrol dengannya tak hanya didunia maya, kadang dia pun sering menelpon dan videocall. Dalam Dua Tahun pun dia tetap menggombal dan merayuku  seolah-olah hatinya masih tetap sama sekalipun aku cuek dan dia sudah berapa kali ganti pacar.
                Semua terjadi karena perhatian-perhatian kecil yang selalu dia tunjukan, membuatku merasa ada yang begitu care dan sayang padaku, orang yang selama ini Aku  abaikan justru Dia yang selalu ada, sementara yang selama ini Aku harapkan pergi bagaikan ditelan Bumi. Satu-satunya kebodohanku  adalah Aku  percaya begitu saja sederet kata-kata manis dan rayuan gombalnya. Hatiku yang tengah rapuh dan terombang ambing karena cinta seseorang pun mulai luluh. Hatiku  yang begitu merindukan keseriusan laki-laki pun runtuh seketika saat Dia melontarkan serangan-serangan cintanya. Misalnya, Dia tiba-tiba bilang “Tunggu aku sampai aku siap dan datang melamarmu” atau membicarakan semua keseriusan-keseriusan seorang laki-laki.
                Segala perhatian dan semua rayuan gombal itu seharusnya sejak awal sudah aku curigai hanya untuk mengambil hatiku dan ternyata hatiku pun luluh. Aku mulai merindukan setiap sms dan segala bentuk perhatiannya. Rindu setiap kata-kata sayangnya. Oh..apakah Aku  jatuh cinta lagi Tuhan?. Ketakutan akan tersakiti kesekian kalinya, Aku  pun berusaha menghindarinya. Beberapa kali menahan diri untuk membalas setiap chatnya, sebisa mungkin tak menjawab teleponnya. Berusaha untuk menolak setiap perhatian dan rayuan gombalnya. Tapi tiba-tiba dia datang dengan keputus asaannya tentangku.
                “Kamu sudah punya pacar? Aku patah hati, ya sudah semoga kamu bahagia” tulisnya dalam layar chat
                Entah perasaan apa yang datang ke hatiku tiba-tiba Aku merasakan Dia begitu tulus dan sungguh-sungguh. Akhirnya hatiku pun luluh juga, benih-benih cinta itu mulai tumbuh diatas kerapuhan hati ini. Dan kamipun menjalin kedekatan layaknya orang pacaran tapi tanpa ada kata jadian. Sejak hari itu tak ada perubahan dalam dirinya, dia tetap memberiku perhatian layaknya seorang pacar, Dia masih sering menelpon, dan yang membuat Aku bahagia kata-kata cinta penuh kesungguhan yang keluar dari bibirnya. Sebulan kedekatan yang kami jalin Dia mulai sedikit berubah, waktunya tak sebanyak dulu, dia mulai sering menghilang kadang dalam seharipun bisa tak memberiku kabar. Cemburunya mulai berlebihan padahal itu temannya sendiri.
                “Ahh.. mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya” aku mencoba berpikir positif.
                Puncaknya ketika Aku  buka twitter miliknya, kaget bukan main. Ternyata ada sesosok wanita yang selalu dia panggil sayang, semua kata-kata cinta yang dia racuni ke dalam hati dan pikiranku ternyata dia juga menghujani wanita itu dengan kata cinta dan rayuan yang sama persis dia lakukan terhadapku. Oh..Tuhan, apa artinya semua ini? Mungkinkah dia sudah memiliki wanita dihatinya? Lantas kenapa dia selalu berusaha mendekatiku? Mengapa dia selalu menghujaniku dengan berbagai kata-kata cinta? Apa salahku? Kenapa dia melakukan ini?.
                Akupun berusaha mencari kebenaran dengan menanyakannya langsung, namun dia meresponku penuh emosi.
                “Sudahlah, aku mau fokus dengan masa depanku sendiri. Kalau kamu mau aku jujur, kamu pikir dulu saat kamu tak menganggapku, aku tak sakit? Aku terima begitu saja?” tulisnya dalam layar chat.
                Tiba-tiba aku merasakan sakit yang amat luar biasa menjalar keseluruh ruang dihatiku. Hatiku tercubit, dan sakit ini membuat butir-butir air mata terjatuh membasahi pipiku. Berkali-kali aku mengucap Istigfar dalam hatiku, berharap sakit ini tak akan berlanjut.  Aku menangis semalaman. Bukan karena cinta yang diabaikan, lebih kepada perasaan kecewa dan kesal karena dibohongi dan dipecundangi begitu saja. Aku mencoba memahami semua yang terjadi, memahami sikapnya yang begitu jahat. Padahal selama 2 tahun ini aku beranggapan Dia laki-laki yang baik dan tak pernah menyimpan dendam ataupun sakit hati atas semua sikap acuhku. Tapi dia kini bagaikan api dalam sekam, dibalik sikap baik dan manisnya diam-diam menyimpan rasa sakit terhadapku. Tapi semua sikap kasar dan kebohongannya tak membuatku ingin membencinya, karena hatiku terlalu lelah untuk membencinya.
                Semenjak hari itu, aku semakin mendekatkan diriku kepada Allah. Aku berharap Allah menguatkan hatiku untuk menerima semua benci yang Dia tujukan kepadaku, semoga Allah tetap menguatkan hatiku untuk tak membalas membencinya. Dengan ikhlas aku terima semua sakit dan perih ini, mungkin inilah buah dari sikapku dulu. Sakit dan perih atas perlakuannya tak akan membuatku terpuruk untuk kesekian kalinya, karena bagiku sakit ini tak seberapa jika dibandingkan dengan kegagalan-kegagalan ku terdahulu.
                “Ya Allah, ampuni aku yang telah membiarkan cinta selain cintamu merasuki hatiku. Cinta yang didasari nafsu sesaat, cinta yang tak dilandasi cinta kepadamu. Ampuni hamba yang telah terlena mencintai selain kepadamu. Allah, hanya engkau yang maha membolak balikan hati manusia. Perbaikilah hatiku agar aku dapat dengan mudah melupakan segala sakit, perbaikilah hatiku agar tak membenci sesamaku hanya karena sakit yang kurasakan. Tetapkanlah hatiku hanya untuk mencintaimu seumur hidupku. Bersihkanlah hatiku dari segala macam jenis cinta duniawi, biarkan hanya cintamu yang mengisi setiap relung dihatiku. Aku tak akan lagi berharap jatuh cinta jika hanya akan mencermarkan hati, membuatku melupakan cintamu hanya karena cinta sesaat dari umatmu yang belum tentu baik untukku. Aku pasrah atas apa yang menjadi takdirmu”.
                Setelah menangis dan mengadu semalaman kepada Allah, hatiku merasakan tenang. Tak ada lagi air mata dan kekecewaan dihatiku. Untuk menjaga hatiku agar tak tercemar rasa benci dan sakit hati lagi, aku memutuskan semua aksesku yang dapat menghubungkan aku dengan Dia. Kini aku bahagia, karena  aku memutuskan untuk istiqomah pada cinta yang tak akan pernah membuatku menangis, cinta yang tak akan membuatku patah hati dan kecewa lagi, cinta yang membuat hatiku semakin tenang dan damai dalam bahagia. Cinta Illahi Rabbi. Semoga kelak cintamu akan mengantarkanku bertemu dengan jodoh dunia akhiratku, jodoh yang selalu membimbingku dakam jalanmu, jodoh yang selalu mengajariku untuk lebih mengenal cintamu, jodoh yang mencintaiku karenamu. Aamiin…

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates