Jumat, 03 April 2015

Jodoh dari Tuhan



“Kapan Nikah?” pertanyaan ini yang sering orang-orang tanyakan padaku. Baik teman-teman semasa sekolah dulu, keluarga, bahkan orang-orang sekitar rumah. Ahh... rasanya benci setiap kali mendengar pertanyaan itu. Dan aku pun mulai bingung mau menjawab apa?
                “Doakan saja, belum ketemu jodohnya, masih mau cari duit dulu” semua jawaban sudah pernah aku ungkapkan dan itu tak membuat orang-orang bosan untuk bertanya.
                Terkadang aku berpikir, apa salahnya kalau belum menikah? Umurku juga belum terlalu tua, wajarkan di umur 27 tahun belum menikah, bahkan artis-artis banyak yang menikah diatas 30 tahun. Atau karena adikku yang masih muda lebih dulu menikah sedangkan aku belum?.
                Sahabat dan kelurgaku sempat berpikir alasan aku belum mau menikah dan tak pernah terlihat menggandeng pacar karena aku trauma akan kegagalan kisah cintaku di masalalu. Mungkin itu salah satunya, tapi aku tak memandang itu sebagai suatu trauma hanya kepada lebih berhati-hati dalam mengenal seorang lelaki apalagi untuk dijadikan sebagai pendamping hidup, Imam untuk aku dan anak-anakku kelak.
                Aku akui, kegagalan kisah cintaku di masalalu sangat memberiku pelajaran berarti dan sempat membuatku berpikir tak ada laki-laki yang sebaik Ayah didunia ini. Yang akan menjaga dan mencintai aku segenap hatinya, dan terlebih tak akan pernah membuat aku menangis karenanya.
                Lima tahun menjalin hubungan dengan Rangga, dan berakhir karena sebuah pengkhianatan itu merupakan sebuah pukulan terbesar yang aku terima. Lima tahun? Mudah sekali dia melupakan semua waktu yang telah kami lewati bersama. Lima tahun? Mudah sekali baginya melupakan rasa cinta yang telah kami jaga sekian lama. Lima tahu? Mudah sekali baginya melupakan semua janji-janji manisnya yang telah dia racuni kedalam pikiran dan harapanku. Lima tahun? Mudah sekali baginya melupakan mimpi-mimpi kami berdua tentang masa depan yang indan dan penuh cinta.
                “Kamu jangan terlalu membenci mantan Gish, yang sudah ya sudah lupakan kita harus move on. Hidup itu untuk maju kedepan bukan melulu menoleh ke belakang” Ucap Rere berusaha menasehatiku.
                “Aku bukan belum move on Re, hanya untuk memaafkan dan melupakan semuanya itu gak mudah” jawabku sedikit ketus.”Aku juga tak sebaik kamu, yang dengan berbesar hati memaafkan dan menghadiri pernikahan mantanmu itu” lanjutku diiringi tawa kedua sahabatku yang lain Anissa dan Ariani.
                “Kenapa jadi mantan aku dibawa-bawa seh?” Rere terlihat kesal karena ucapanku
                “Iyaiya, sori deh. Abis kamu tuh kalau ngomong kayak gampang banget” jawabku geli melihat sahabatku kesal.
                “Aku setuju. Gak semua orang punya sikap kayak kamu Re. Kisah mungkin boleh sama tapi cara menanggapinya pasti berbeda” kata Anissa menambahkan.
                “Iya, ngerti deh yang sama-sama terluka karena mantan” jawab Rere setengah meledek.
Pembicaraan mengenai mantan ditengah-tengah makan siang dengan sahabat-sahabatku tercinta sedikit membuka luka lama. Yaah..walaupun sekarang aku tak begitu mengingat rasa sakit yang dulu diberikan oleh Rangga tapi tetap saja aku tak mudah melupakannya begitu saja.
Dari sekian banyak orang-orang yang mempertanyakan tentang kesendirianku, hanya ketiga sahabatku lah yang memahami tentang keputusan aku untuk tidak berpacaran lagi dan belum menikah diusia yang menurut orang-orang sudah melebihi batas bagi seorang wanita untuk menikah. Apalagi dikeluargaku mungkin hanya aku yang telat menikah. Rata-rata semua saudara Sepupu, Kakak dan bahkan Adikku menikah diusia dibawah 25tahun sekalipun mereka Laki-laki.
Ada yang menarik dari persahabatan kami berempat, yaitu kami sama-sama korban patah hati oleh lelaki. Rere sebenarnya lebih parah dari aku, dia 9 tahun pacaran dan pacarnya selingkuh. Mungkin bedanya Rere lebih legowo dan bisa memaafkan mantan pacarnya. Buktinya dia dengan berbesar hati menghadiri pernikahan mantannya dengan selingkuhannya dulu, Rere juga sudah punya pacar lagi dan  3bulan lagi dia akan menikah. Anissa, dia pacarannya paling sebentar diantara yang lain tapi sejak diselingkuhi pacarnya dia benar-benar mati rasa terhadap lelaki.  Ariani, diantara kami berempat dia yang paling aku tak habis pikir berkali-kali disakiti sama pacarnya tapi tetap saja luluh setiap kali pacarnya ngajak balikan.
Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu menghindar atau membenci laki-laki. Karena aku tahu tidak semua lelaki itu seberengsek Rangga. Hanya saja sejak aku putus dari rangga 4 tahun lalu, aku memutuskan untuk tidak lagi berpacaran dan menunggu sampai ada yang benar-benar serius langsung melamar aku untuk jadi istri.
Sering kali ibu dan tante-tanteku sibuk menjodohkan aku dengan kenalan-kenalan mereka, kebanyakan dari mereka mungkin siap untuk meminang bukan untuk pacaran tapi entah kenapa hati aku tak pernah merasa klik setiap kali dikenalkan.
“Kamu tuh sebenarnya cari suami yang seperti apa seh?” tanya Ibu saat kami tengah sibuk didapur. “Dikasih yang ganteng bilangnya, yang ganteng banyak yang suka nyeleweng, dikasih yang mapan minderlah, dikasih yang sedehana, baik, malah gak klik. Jangan terlalu banyak alasan nanti gak nikah-nikah kamu”lanjut ibu.
“Gisha gak punya kriteria khusus bu, gak masang target yang tinggi-tinggi juga ko” jawabku sekenanya.
“Ya, terus maunya yang gimana? Semua kenalandari Ibu dan Tante-tante kamu tolak. Dicoba dulu apa salahnya, kalau gak cocok berarti bukan jodohnya”
“Itukan udah dicoba, Gisha gak cocok mangkanya jadi bukan jodohnya” jawabku tersenyum.
“Dicoba apanya, baru juga sms beberapa kali sudah gak direspon. Tantemu semua pada protes yang dikenalin ko pada gak direspon” omel Ibu.
“Gisha belum terpikir buat nikah Bu, masih enjoy sendiri dan bebas pergi sama teman-teman”
“Mau sampai kapan? Umurmu sekarang sudah 27, teman-temanmu sudah banyak yang punya anak. Kamu masih saja mau main. Orang-orang juga sudah banyak yang nanya kapan kamu nikah? Gara-gara kamu dilangkahin Adikmu. Ibu kan bosan mendengarnya”keluh ibu
Ahh...Ibu mulai mengeluh lagi tentang pernikahan. Hal yang amat sangat membosankan untuk dibahas berpanjangan.
“Ya, ibu tinggal jawab aja minta doanya, kalau ada jodoh Insya Allah tahun depan” jawabku asal.
“Iya, nanti tahun depan mereka nanya gitu lagi terus ibu jawab gitu lagi? Terus aja gitu” Ibu mulai terlihat kesal. “Ibu gak ngerti maunya kamu tuh apa?”
“Kalau ada lelaki sebaik dan seganteng  Ayah, Gisha janji gak akan nolak” jawabku sambil kupeluk dan kucium pipi Ibu.
“Tuhkan Yah, lihat anakmu itu” ucap ibu pada Ayah dengan sedikit kesal. Ayah hanya tersenyum mendengar percakapan aku dan Ibu.
Sebenarnya itu bukan hanya asal jawab untuk menghindari keluhan Ibu lebih banyak lagi tentang anak perempuannya yang belum juga mau menikah ini. Tapi aku memang selalu mengharapkan mendapat  suami seperti sosok Ayah. Pria sederhana yang begitu menyayangi Ibu dan keluarga, yang selalu menjaga anak perempuannya sekalipun Aku jauh dari Ayah.
Mungkin karena Ayah hanya punya Aku satu-satunya anak perempuan mangkanya Ayah jadi sangat over protective kepadaku. Aku anak kedua dari 3 bersaudara. Kakakku yang pertama  laki-laki sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Adikku yang bungsu 3 tahun lebih muda dariku dan dia baru saja menikah 6 Bulan yang lalu. Sekarang yang tinggal bersama Ayah dan Ibu hanya tinggal aku seorang itulah kenapa Ibu jadi semakin lebih cerewet. Ditambah karena aku anak perempuan belum menikah dan dilangkahi pula oleh adikku yang laki-laki.
Sebenarnya untuk aku pribadi tak masalah dilangkah menikah oleh Adikku, Ayah juga tak mempermasalahkan itu. Aku masih ingat perkataan Ayah sewaktu Ibu tak menyetujui Adikku menikah lebih dulu.
“Buat Ayah yang terpenting anak perempuan Ayah satu-satunya ini harus menemukan lelaki yang benar-benar sayang dan menjagamu dengan baik, dan lelaki seperti itu susah dicari jadi tak usah terburu-buru.” Kata Ayah sambil memelukku
“Iya, tapi apa kata orang Yah. kalo Gisha dilangkah sama Rio. Rio juga masih terlalu muda untuk nikah, laki-laki umur berapapun nikah tak masalah. Tapi anak perempuan udah lewat 25 belum nikah pandangan orang jelek tentang dia.” Jawab Ibu kesal
“Ibu kenapa seh harus mikirin terus apa kata orang? Yang terpenting tuh anak Ibu bahagia, apa salahnya Rio masih muda nikah lebih dulu. Dia udah ketemu perempuan yang baik, dan siap untuk nikah. Gisha kan belum ketemu jodoh yang cocok dan Gisha juga belum siap buat niakah Bu.”kataku mencoba meyakinkan Ibu.
Dengan segala argument Aku dan Ayah akhirnya berhasil meyakinkan Ibu untuk mengizinkan Rio Adikku menikah lebih dulu. Aku paham perasaan Ibu yang begitu khawatir tentang masa depanku. Tapi mau bagaimana lagi karena Aku memang belum menemukan lelaki yang cocok.
Hingga suatu malan saat aku tengah iseng membuka facebook, tiba-tiba ada seseorang yang menyapaku. Orang yang tak asing lagi buatku dan aku cukup mengenalnya dengan baik, yupp.. dia Fariez. Fariez adalah sahabat dekat Rangga. Dulu saat aku masih pacaran dengan Rangga, aku sering menghubungi Fariez kalau Rangga lagi susah dihubungi, bahkan kadang saat aku bertengkar dengan Rangga pun Fariez selalu siap mendengarkan setiap curhatan aku.
“Assalamu’alaikum..” sapanya.
“Wa’alaikum salam..” jawabku.
“Gimana kabarnya?” tanyanya
“Alhamdulillah sehat, kamu sendiri apa kabar? Sekarang dimana? Kerja dimana? udah nikah belum?”
“Aduh, ini nanya apa soal ujian pertanyaannya banyak banget jadi bingung mau jawabnya” jawabnya.
Aku tertawa kecil membaca balasan darinya
“Alhamdulillah sehat juga, Sekarang di Yogya. Alhamdulillah dapet rezekinya disini. Masih sendiri aja neh, cariin jodoh dong” tulisnya kemudian.
“Masa seorang Fariez minta dicariin jodoh seh, bukannya yang ngantri banyak?” candaku. Fariez dulu cukup populer saat masih di SMA banyak gadis-gadis yang suka, dia ganteng, baik dan pendiam. Ketua Rohis pula. Tapi sayangnya tak ada satupun yang jadi pacarnya. Mungkin karena buat dia tak ada istilah pacaran dalam Islam.
“Mana banyak? Ini buktinya masih jomblo aja.” Jawabnya
“Kamu nya yang terlalu pemilih itu seh” ledekku
“Ahh, ngga ko. Ngomong-ngomong kamu sendiri udah nikah dong? Rangga gimana?”
Huuh...aku menghela nafas sejenak. “Kenapa harus pertanyaan tentang Rangga seh?” keluhku dalam hati.
“Kenapa harus tanya Rangga seh?” jawabku sedikit ketus
“Upps.. sori aku gak ada maksud apa-apa ko, aku kira kalian masih suka kontek” jawabnya sedikit merasa bersalah
“It’s Okay... udah gak pernah sejak terakhir putus. Kamu kan sahabatnya kenapa tanya aku?”
“Aku juga udah 2 tahun gak tau kabar dia, sejak aku di Yogya.” Jawabnya
“Ohh, kamu sudah lama di Yogya?” tanyaku
“Ya, sejak mulai kerja aja. Ngomong-ngomong kamu belum jawab udah nikah belum?”
“Belum, gimana mau nikah pacar aja gak punya” jawabku asal.
Dari sejak Chatting malam itu aku dan Fariez mulai sering ngobrol, entah itu lewat sosmed atau pun via sms dan telpon. Dia masih seperti dulu tak banyak berubah, anak yang asik diajak ngobrol, bikin betah untuk diajak berdiskusi atau sekedar curhat tentang rutinitas kantor yang terkadang menyita waktu dan tenaga. Hingga suatu hari Fariez mengutarakan niatnya untuk melamar aku.
“Aku serius Gish”  ucapnya ditelpon.
“Apa ini tidak terlalu cepat Riez” jawabku
“Apanya yang terlalu cepat Gish? Kita saling kenal dan berteman dari sejak kita masih duduk di bangku SMP, dan aku cukup tau kamu.” Katanya meyakinkanku
“Entahlah, Riez aku masih tidak paham dengan semua ini” jawabku bingung
“Ini bukan karena km masih menyimpan rasa untuk Rangga kan?”tanyanya mengagetkanku
“Bukan, bukan sama sekali. Aku benar-benar sudah melupakan Rangga. Bahkan dalam mimpipun aku malas untuk mengingatnya.”jawabku sedikit emosi.
“Lantas?” tanyanya lagi.
“Kasih aku waktu untuk berpikir”jawabku lemas
“Okay, I wait for your answer. Sudah malam, kamu istirahat.  Assalamu’alaikum” katanya mengakhiri obrolan kami,
“Walaikum salam” jawabku
Esok siangnya aku cerita tentang Fariez kepada tiga sahabatku berharap dapat pencerahan untuk mengambil keputusan.
“Apa lagi yang kamu ragukan Gish? Dia baik, kamu juga udah lama kenal dia” ucap Rere penuh semangat
“Masalahnya Dia teman baik dan sahabatnya Rangga Re, aku bingung” jawabku dengan memasang wajah manyun.
“Terus? Salah kalau dia teman dekatnya Rangga mantan kamu? Kan gak ada larangan buat nikah sama teman mantan pacar” jawab Rere dengan pemikirannya
“Kali ini aku setuju ama Rere, Gish. Kan gak salah kalau kamu menikah dengan temannya mantan pacar kamu, selama dia memang yang terbaik buat kamu” tambah Annisa. Ahh.. Annisa yang biasanya selalu membela dan satu pemikiran dengan akupun sekarang sependapat dengan Rere.
“Iya, seh tapi aneh gak seh masa kita nikah dengan sahabatnya mantan pacar kita yang dulu nya tau persis kisah cinta kita, yang suka bantuin kita kalau lagi berantem sama mantan kita dulu” jawabku mencoba menjelaskan isi hatiku.
“Ya, gak usah dipikirin dia temannya mantan pacar kamu Gish. Sekarang pikirinnya dia itu lelaki baik yang datang untuk serius dan mau membahagiakan kamu” komentar Ariani. Aku kaget dengan  komentarnya seorang Ariani yang gak pernah bisa move on tiba-tiba begitu bijak.
“Udah mending kamu Sholat aja dulu minta petunjuk Allah itu yang paling bener” kata Annisa.
Sebulan sudah aku membuat Fariez menunggu jawaban atas lamarannya dan malam ini setelah sholat dan meminta petunjuk kesekian kalinya kepada Allah, aku sampai pada keputusanku. Aku mengambil ponsel ku dan mengumpulkan segala keberanianku mengetik pesan untuk Fariez.
“Assalamu’alaikum... Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama untuk jawaban atas keseriusanmu tempo hari” ku kirim kan sms itu
“Wa’alaiku salam... sebulan tidak lama untukku, Gish. Dan aku masih akan tetap menunggu walau harus beberapa bulan kedepan” jawab Fariez
Aku tersenyum membaca pesannya “Gombal ini orang” gumamku. Tiba-tiba ada sms lagi yang masuk.
“Yang tadi bukan gombal ya tapi aku serius” tulis Fariez. Seakan-akan dia tau apa yang ada benakku.
“Aku gak mau membuatmu menunggu lebih lama” jawabku singkat
“jadi, sudah ada jawaban?” tanya Fariez
“Dengan mengucap Bismillah aku terima keseriusanmu” jawabku
Alhamdulillah... terimakasih Gish, besok aku kerumah untuk bertemu orang tuamu” balas Fariez.
Esok harinya Fariez datang kerumah sesuai janjinya dia melamarku kepada Ayah dan Ibu. Sudah bisa ditebak Ibu orang yang paling bahagia dan langsung memelukku dengan erat sambil menangis ibu berkata “Makasih sayang, akhirnya Doa ibu dikabulkan Allah”
Ahhh... Ibu membuatku ikut meneteskan air mata. Aku tak tau keinginan Ibu untuk aku segera menikah ternyata begitu besar sampai-sampai Ibu menangis ketika Fariez melamarku.
Terima kasih Allah, telah mengirimkan lelaki baik ini. Yang tidak hanya membuatku bahagia tapi juga kedua orang tuaku. Jadikanlah dia jodoh tidak hanya didunia tapi kelak di akhiratmu juga. Aamiin

               

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates